
- Bernd Debusmann Jr
- Peranan,Jurnalis BBC di Gedung Putih
- Telah diterbitkan18 Juni 2026
Perjanjian terbaru antara Amerika Serikat dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata akan mulai berlaku, Kamis (18/06).
Presiden AS, Donald Trump, menandatangani perjanjian tersebut, Rabu malam kemarin, saat dia menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Evian-les-Bains, Prancis. Salah satu isi perjanjian itu adalah kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang sangat vital bagi kepentingan banyak negara.
“Sudah diteken,” kata Trump kepada pers saat meninggalkan Istana Versailles, usai menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis, Emmanuel Macron.
Kesepakatan antara kedua negara itu disusun dalam bahasa Inggris dan Farsi, kata Menteri Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei.
“Ini menunjukkan tingkat transparansi tertinggi dalam komunikasi publik kami,” kata Baghaei kepada kantor berita milik pemerintah Iran, IRIB.
“Jika teks tersebut hanya ada dalam bahasa Inggris, mungkin akan ada terjemahan yang subjektif atau berbeda,” ujarnya.
Perjanjian antara AS dan Iran memuat 14 poin. Salah satu poinnya menyatakan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Ada juga poin tentang pengalokasian dana sebesar US$300 miliar (sekitar Rp5.349 triliun) untuk “rekonstruksi dan pembangunan ekonomi” Iran, tapi AS tidak diwajibkan untuk berkontribusi terhadap dana itu.